Rabu, 06/01/2016 09:04

Sore ini, Minangkabau Institute Gelar Silaturahmi Budaya

Seni dan Budaya

Sudarmoko dan Yusrizal KW

Percakapan Sudarmoko dan Yusrizal KW di Kantor inioke.com. (ist)

Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) berakhir lima tahun lalu, tidak ada lembaga nonpemerintah yang mengurus kesenian dan kebudayaan secara bersama. Kondisi kesenian dan kebudayaan di Sumatera Barat berjalan tanpa agenda bersama dan sporadis, tak terkelola sebagai kebutuhan bersama.

Berangkat dari kondisi yang kurang kondusif itu, Sudarmoko bersama Yusrizal KW, yang keduanya dikenal sebagai pengamat dan sastrawan-budayawan, menggagas pertemuan atau silaturahmi budaya pada hari ini, Rabu (6/1/2016) di Minangkabau Institute (rumah almarhum Wisran Hadi), Lapai, Padang.

“Silaturahmi budaya ini mencari solusi terbaik untuk menjawab problem kebudayaan dan kesenian di Sumatera Barat yang kian berkulindan yang makin lama makin sulit mengurainya. Sekitar 20 orang yang terdiri budayawan, seniman, pengamat, dan aktivis sudah bersedia hadir dalam silaturahmi ini,” kata Yusrizal KW dan Sudarmoko Rabu (6/1/2016).

Ditambahkan Yusrizal KW, selama ini, komunitas seni dan individu seniman di Sumatera Barat berproses secara personal. Jikapun ada festival kesenian, lebih berupa membangun jaringan yang disukai, berdasarkan kedekatan, dan tidak membangun kesenian secara bersama.

“Demikian juga dengan program pemerintah dan lembaga publik, lebih berupa program ulangan tanpa visi besar dalam membangun arah kesenian dan kebudayaan dalam jangka panjang. Spirit silaturahmi budaya ini untuk mengurai persoalan dan menawarkan solusinya,” kata redaktur budaya Harian Padang Ekspres ini.

Sementara itu, Sudarmoko menjelaskan, berbagai persoalan dan persinggungan antarseniman dan lembaga kesenian juga tak luput telah mewarnai dinamika kesenian di Sumatera Barat. Tetapi, potensi besar kesenian dan kebudayaan yang ada di Sumatera Barat belum terkelola dengan baik.

“Kekuatan modal budaya ini harus dikembangkan, baik dalam memajukan kesenian dan juga dalam usaha memperbaiki kualitas masyarakat. Kesenian dan juga etika, sikap, dan kesepahaman dalam memaknai peran dan fungsi kesenian harus ditegakkan. Komunikasi harus terjalin dalam kerja bersama,” kata kandidat doktor di Universitas Leiden, Belanda ini.

Bagaimanapun juga seniman memiliki harga diri dan dipandang dalam usaha membangun masyarakat. Beberapa hal ini menjadi perhatian kita, dan perlu dikuatkan dalam pembahasan yang mendalam.

Kekuatan seniman, tambah Sudarmoko, di dalamnya juga termasuk budayawan dan intelektual, sudah saatnya disegarkan kembali. Masyarakat secara luas sebenarnya memerlukan gagasan kreatif dan imajinatif dalam mengatasi berbagai persoalan,.

“Karena itu, kekuatan seniman, budayawan, dan intelektual harus diwujudkan dalam program dan agenda yang lebih jelas. Kekuatan itu dapat terbentuk dalam berbagai rupa, baik secara kelembagaan maupun personal," kata pengajar ilmu sastra di FIB Unand ini.

Pertemuan silarurahmi budaya ditujukan untuk menjawab dan mencari langkah konkret bagi berbagai persoalan. Beberapa diskusi dan pembicaraan informal, baik di antara seniman, dalam berbagai media, dapat dijadikan bahan yang konkret dalam pertemuan ini.

“Pengalaman dan pemikiran yang ikut dalam silaturahmi ini akan menjadi sumbangan penting dalam usaha ini,” katanya.

Dalam agenda itu juga, budayawan Edy Utama akan menyajikan resume pemikirannya dalam menjawab beberapa kondisi kebudayaan dan kesenian di Sumatera Barat.

Silaturahmi budaya ini dijadwalkan mulai pukul 16.00 WIB ini berkerja sama dengan Minangkabau Institute, sebuah institusi yang menaruh perhatian pada pemikiran dan karya inovatif terhadap kebudayaan serta kesenian Minangkabau. (ssc)

Baca Juga: