Berita /

Gus RY

Semangat Pahlawan

Inioke.com , Minggu, 11 Maret 2012 00:12 wib

Cut Nyak Dien

Di tengah gempuran film horror dan melejitnya popularitas drama serta artis Korea, film-film perjuangan kemerdekaan atau tentang para pahlawanan semakin redup. Di samping jarang atau hampir tidak pernah diproduksi saat ini, film-film seperti itu juga tidak memberi keuntungan secara bisnis. Kondisi ini berbeda dengan tahun 1980 atau 1990-an, dimana remaja bisa merasakan semangat perjuangan kemerdekaan dan rasa nasionalisme itu dari film-film tersebut.

Akan kuceritakan kepadamu, bagaimana sebuah film sejarah perjuangan kemerdekaan mampu memunculkan semangat heroisme atau kepahlawanan di kalangan remaja, yang sekarang hampir-hampir tidak ada. Pada tahun 1990-an, di kampung kami ada pemutaran film Cut Nyak Dien. Anak-anak sekolah wajib menonton film yang diputar di gedung serbaguna, di pusat kecamatan itu. Tiket film itu Rp600 untuk kalangan pelajar.

Cukup mahal, jika dibandingkan dengan jajan kami yang hanya Rp100 sehari. Berarti, setara dengan jajan kami seminggu. Jika dikonversikan, Rp100 itu bisa untuk membeli sepiring lontong pada masa itu. kalau sekarang harga sepiring lonton Rp4 ribu, maka harga tiket yang 6 piring lontong itu sama dengan Rp24 ribu. Tidak jauh beda dengan harga tiket nonton di bioskop.

Persoalannya bukan harga tiket yang setara jajan seminggu, namun perjuangan mendapatkan duit sebanyak itu. Apalagi tidak semua anak sekolah bisa jajan tiap hari. Adakalanya, teman-teman kami hanya dikasih uang jajan sekali seminggu. Bagi mereka yang berada, tentu bukan hal yang sulit.

Menariknya, perjuangan teman-teman kami yang tidak mampu dan sering tidak jajan di sekolah ini. Karena tidak mungkin meminta duit sebanyak itu sekaligus kepada orangtuanya, mereka berusaha sendiri. Ada yang bekerja menyabit rumput kemudian menjualnya kepada peternak sapi atau kerbau. Ada yang menjadi kuli pembongkar pasir dari truk, bekerja sebagai tukang angkat atau tukang bungkus di toko P&D, dan sebagainya. Itu mereka lakukan sepulang sekolah. Duit hasil kerja inilah yang kemudian dibelikan tiket untuk menonton film Cut Nyak Dien tersebut.

Mengapa kami begitu antusias untuk menonton film pahlawan perjuangan kemerdekaan dari Aceh tersebut? Karena di buku teks sekolah, sejak SD sampai SMA, kami selalu disuguhi cerita tentang pahlawan dari seluruh nusantara. Bagi kami, mereka yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu mampu memberi rasa lain tentang semangat untuk belajar dan sekolah dengan sungguh-sungguh.

Karena diakhir pelajaran, guru-guru selalu menutupnya dengan pesan, “di masa penjajahan para pahlawan berjuang mengorbankan jiwa raganya untuk berperang, sedangkan di masa pembangunan kita harus mengisi kemerdekaan itu dengan semangat belajar dan menjadi generasi penerus yang memajukan bangsa ini.” Kalimat itu menjadi semacam doktrin yang setiap hari mampir di pikiran dan jiwa kami. Sehingga tidak mengherankan bila kami begitu tertarik untuk menonton film Cut Nyak Dien yang hanya kami kenal lewat bacaan saja. Sementara visualnya belum.

Begitulah, dengan wajah sumringah seperti telah berjuang mengusir penjajah, teman-teman kami yang berusaha sendiri untuk mendapatkan tiket tadi ikut antre di gedung serbaguna. Dikenakannya pakaian terbaik, dengan stelan yang rapi.

Setelah film selesai, meletuplah cerita mereka tentang bagaimana perjuangan mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini di film tersebut. Tentang Cut Nyak Dien, yang tidak takut menghadapi Belanda meskipun seorang perempuan. Dilengkapi dengan kalimat sakti dari guru tadi, bahwa, di masa pembangunan generasi muda harus giat belajar untuk kemajuan bangsa, seperti perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan.

Aku merasa sangat sulit menemukan semangat seperti itu pada kamu atau remaja hari ini. Selain, hampir tidak memiliki semangat kepahlawanan, teman-teman kamu juga banyak yang tidak tahu dan tidak kenal pahlawan bangsa ini. guru-guru pun jarang yang berpesan seperti dulu, tentang tugas generasi muda mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan. Kalau pun ada, tentu pesan itu tidak mungkin sampai, karena kamu tidak begitu mengenal siapa itu pahlawan dan bagaimana semangat perjuangan mereka.

Aku tidak menyebut generasi dulu itu lebih baik dari generasi sekarang. Setidaknya, di setiap generasi harus memiliki semangat seorang pahlawan, sebagaimana pejuang bangsa ini dulu. Sehingga muncullah pahlawan-pahlawan muda dari seluruh pelosok nusantara, yang berjuang mengatasi persoalan bangsa hari ini. Tidak terkecuali, kamu. (*)