Berita /

Ini Kata Artis Indonesia tentang Sumpah Pemuda

Inioke.com , Selasa, 23 Oktober 2012 14:43 wib

Ilustrasi (int)

Sumpah Pemuda. Ya, ikrar para pemuda Indonesia itu menandai awal kebangkitan rasa nasionalisme Indonesia sebagai satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Ikrar disuarakan dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 silam.

Di masa kini Sumpah Pemuda, bukan lagi sesuatu yang sakral untuk diperingati. Bahkan banyak anak muda yang tidak tahu peristiwa bersejarah itu, serta maknanya dalam hidup bernegara. Meskipun demikian, beberapa para pesohor atau selebritis masih ada yang mengingat dan menjadikan peristiwa itu sebagai momentum untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Tantri Kotak


Selain ingat tanggalnya, Tantri Kotak juga hafal isi ikrar Sumpah Pemuda tersebut. Sumpah pemuda di mata Tantri harus menjadi pengingat generasi muda untuk selalu bertindak positif.

“Generasi muda yang dari tingkat modernisasi jadi lebih mudah. Kita mengisi jiwa-jiwa muda dengan hal-hal positif. Misalnya kita musisi buat lagu soal perdamaian,” katanya

Lalu, lagu apa yang sudah diciptakan rocker ini?  “Lagi buat lagu untuk soundtrack film juga, temanya menyemangati jiwa-jiwa muda. Tapi masih rahasia. Lagunya baru jadi semalem,” paparnya.

Simak sumpah ala Tantri berikut ini yang mungkin bisa menjadi inspirasi. “Selalu berpegang teguh pada keyakinan, pasti beres. Kalau lagi nyetir sumpah nggak boleh sumpah serapah lagi,” ujarnya dengan tegas.

Ridho Irama


Begitu juga dengan Ridho Irama. Putra raja dangdut Rhoma Irama ini berjanji akan menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dalam setiap karyanya. Seperti salah satu ikrar Sumpah Pemuda, “Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

“Saya suka membuka kamus ketika membuat lagu. Menemukan kata yang jarang dipakai, lalu saya masukkan dalam lagu. Kalau saya menyanyikan lagu itu masyarakat terdorong untuk cari tahu arti yang nggak umum kita masukkan ke lagu. Itu cara saya menjaga bahasa Indonesia,” ujar Ridho.

Ridho juga mengajak followernya di twitter untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. “Saya menggunakan twitter untuk mengedukasi masyarakat. Dampaknya besar ke follower. Selain memberi karya yang bisa diapresiasi, kami sama-sama belajar menggunakan bahasa dengan baik,” jelasnya.

Namun, semua ajakan itu menurut Ridho dimulai dari dirinya sendiri. “Pertama saya harus bisa mengontrol diri sendiri dulu. Setelah diri sendiri menjadi Indonesia akan terbawa ke aktivitas. Saya bersumpah untuk Indonesia akan berusaha menjadi pribadi yang terbaik untuk Indonesia,” tegasnya.

Cinta Laura


Meskipun memiliki dua kewarganegaraan, Cinta Laura tetap memegang semangat nasionalisme yang tinggi pada Indonesia. Gadis blasteran yang sedang sekolah di Amerika ini masih ingat peristiwa Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober.

“Aku tahu sumpah pemuda itu untuk memperingati peristiwa pemuda-pemuda Indonesia bersumpah untuk menyatakan kita bersatu dalam satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa, Indonesia. Ini bukti bahwa kita menghargai perbedaan bahasa, suku, dan agama sejak dari dulu,” ujar Cinta.

Mengenang sumpah pemuda membuat Cinta merasa sedih. “Pemuda dulu berharap kita bersatu. Tapi sekarang pemuda Indonesia sibuk tawuran. Dan kerukunan antar umat beragama juga sedikit luntur,” katanya.

Karena itu Cinta berharap setiap sekolah, mulai dari SD, SMP, hingga SMA ditekankan pendidikan budi pekerti dan Pancasila. “Hari ini aku bersumpah aku akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk membuat Indonesia dan orangtuaku bangga,” tegasnya.

Mathias Muchus


Bercermin pada sejarah secara tidak langsung dapat menumbuhkan rasa nasionalisme anak muda yang saat ini mengendor. Sehingga budaya luar yang masuk ke tanah air seiring perkembangan jaman, mereka tetap memiliki rasa itu.

“Rasa memiliki negara ini, kita bercermin ke masa lalu, sejarah. Betapa hebatnya orang memperjuangkan kemerdekaan dengan darah, air mata. Makanya anak jaman sekarang harus belajar lagi soal sejarah, mengetahui bagaimana anak muda jaman dulu memerdekakan negara ini. Supaya mereka terbeban, oh, iya, ya gue yang meneruskan,” ujar Mathias Muchus.

Suami Mira Lesmana ini juga yakin jika rasa nasionalisme anak muda sekarang masih ada kendati terkadang tertutup oleh segelintir oknum yang justru melakukan tindakan negatif.

“Banyak yang baik tapi kadang ke tutup sama gegap gempita yang tidak baik. Karena segelintir orang ini yang masuk ke media, akhirnya dianggap semuanya jelek. Misalkan saya bersaudara 10 orang, paling yang gak baik dua orang, sisanya baik-baik,” terangnya. (kpl)