Berita /

Workshop Akting PAT 5

Belajar Akting yang Jujur dan Wajar

Inioke.com , Rabu, 17 Oktober 2012 18:20 wib

Eka D Sitorus. (ist)

Akting yang natural adalah akting yang jujur dan sangat wajar. Demikian ditekankan Eka D Sitorus dalam Workshop  Akting di Pekan Apresiasi Teater (PAT) yang ke 5.

Workshop bersama Eka D Sitorus (pendiri Sakti Aktor Studio Jakarta-red) ini berlangsung sejak pukul 10.00 wib, pada Rabu (17/10). Diikuti peserta yang datang dari berbagai kelompok teater di seluruh Indonesia.

Dalam workshop tersebut, Eka yang juga penulis buku “The Art of Acting” membawa peserta pada pengalaman berakting yang tidak mengandalkan stilisasi yang dibuat-buat.

Ditemui usai Wokrshop, Eka mengatakan bahwa pendapat yang mengatakan akting adalah untuk panggung dan kamera saja adalah salah. “Akting itu pelajaran penting untuk hidup. Teater sesungguhnya adalah hidup kita. Sejauh mana kita dapat meningkatkan performa ketika berkomunikasi akan sangat menentukan pembentukan citra dan keberhasilan dalam menjalani
hidup ini,” katanya.

Eka melihat, kecenderungan akting para aktor teater dan film di Indonesia saat ini masih mengandalkan akting yang kurang natural. Sementara, ia menegaskan bahwa akting yang tepat, bukanlah akting yang ada dalam paradigma umum selama ini.

“Acting is not acting,” katanya.

Kalimat itu menegaskan betapa berbedanya pemaknaan akting yang ideal dengan akting penuh kepura-puraan yang menjadi pemahaman masyarakat kebanyakan. Untuk dunia film dan sinetron, Eka sengaja mendirikan SAS sebagai kawah Chandra dimuka bagi para aktor.

“Akting teater dapat menjadi kiblat pembelajaran bagi aktor film dan sinetron kita. Banyak artis yang datang dan belajar di SAS. Umumnya mereka punya kasus yang sama bahwa akting hanyalah upaya tambahan sebagai penguat modal dasar mereka berupa wajah yang rupawan dan pakaian yang menawan,” sebutnya.

Padahal, dengan mengenyampingkan keseriusan dalam mempelajari akting, sesungguhnya seorang aktor telah merendahkan sendiri kualitas dirinya.

“Kalau mereka benar-benar seniman peran, tentu kemampuan akting harus menjadi perhatian utama. Di luar negeri, sesuai pengamatan dan pengalaman saya, tidak ada aktor yang mengenyampingkan aktifitas berlatih dan belajar akting. Sehingga wajar bila aktor luar negeri itu
tetap eksis hingga usia tua. Meski wajah sudah kurang memukau, tapi talenta semakin matang,” tegasnya.

Ketua Panitia PAT 5 Afrizal Harun mengatakan, sebagai ajang pertemuan teater yang mewakili berbagai daerah di seluruh Indonesia, PAT memang didedikasikan untuk meluruskan kembali, dan membentuk paradigma yang ideal mengenai seni peran.

“Selain workshop akting, dalam PAT kali ini kita juga menggelar workshop Pantomime dengan mendatangkan pemateri dari Bengkel Mime Teater Jogjakarta,” katanya. (rel)