Berita /

Teater

Keseimbangan di Ruang Bekas

Oleh : Delvi Yandra , Minggu, 23 September 2012 10:35 wib

Teater Ruang Bekas (UKM Seni STKIP Padang)

Seni yang Membatasi, Bukan untuk Dibatasi’, demikian penggalan tulisan yang terpatri di dinding di salah satu ruang UKM Seni di Gedung B STKIP Padang. Di ruang berukuran 4x6 itu, kelompok Teater Ruang Bekas bersitungkin dengan aktivitas kesenian.

“Filosofi tulisan itu bermakna bahwa kami ingin kuliah dan seni seimbang. Tak ada batasan antara seni dan kuliah, tetapi harus bertanggung jawab,” tukas Rian, pencetus penggalan kalimat tersebut pada Sabtu (22/9) sore di sekretariat UKM Seni STKIP.

Komunitas ini dahulunya bernaung di bawah nama Art Community yang berkaitan langsung dengan Departemen Seni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP. Di situ, mereka belum mendapat tempat untuk berkumpul. Ruang-ruang kelas pun mereka manfaatkan sebagai tempat latihan. Kursi dan meja diketepikan sehingga ada ruang baru terbangun di situ.

Belum memiliki ruang, ketika itu, Teater Ruang Bekas bernama Teater 09, yang mana anggotanya sebagian besar terdiri dari mahasiswa angkatan 2009 dan didirikan bersamaan dengan pendirian Art Community pada 16 Desember 2009 silam.

“Sekarang kami sudah punya ruang,” kata Rian.

“Ruangan ini dahulunya milik BEM, makanya teater kami diberi nama Ruang Bekas, artinya bekas ditempati BEM,” tambah Lara Arisanti, salah satu pendiri Art Community (sekarang UKM Seni). Akhirnya, September tahun lalu Teater Ruang Bekas resmi berdiri, disusul dengan terbentuknya UKM Seni STKIP. Tetapi, ruang bekas itu baru mereka dapatkan pada Juni lalu.

Komunita belia ini terus mengikuti pelbagai even baik di kampus maupun luar kampus. Tahun lalu di Riau, mereka mengikuti pertemuan teater mahasiswa seluruh Indonesia.

Berjuang di ‘Sumur Tanpa Dasar’

Kali ini, Ruang Bekas sedang menggarap naskah ‘Sumur Tanpa Dasar’ karya Arifin C Noer, yang mana ceritanya berkisah tentang perebutan harta. “Tetapi setelah kami analisis, semua bermula di pikiran Jumena (salah satu tokoh cerita),” ungkap Lara, sutradara pertunjukan tersebut.

Dipilihnya ‘Sumur Tanpa Dasar’ bukan tanpa alasan. Lara mengatakan bahwa sebagian aktor pernah mementaskan naskah ini pada jurusan bahasa. Tak dinyana, Pembina UKM Seni STKIP Iswandi Bahadur juga menyarankan agar ‘Sumur Tanpa Dasar’ dapat dimainkan kembali. “Naskah ini juga sudah pernah dibedah oleh beliau,” kata Rizky, pimpinan produksi “Sumur Tanpa Dasar’ pada saat yang sama.

Setelah berusaha mandiri dengan mendirikan UKM Seni, Lara mengatakan bahwa bukan tidak ada persoalan ditubuh UKM Seni terutama Teater Ruang Bekas. “Naskah ini memang tidak mudah untuk dimainkan. Meskipun begitu, kami tetap latihan. Setiap hari kami latihan. Saya akan memadukan konsep yang lama dengan yang baru,” tukas Lara lagi, yang juga mengatakan bahwa saat ini mereka telah sampai ke tahap latihan olah panggung.

“Kami akan berusaha terus agar pentas ini nanti berjalan dengan baik,” tambah Rizky.

Ruang Bekas juga berencana akan bergabung dengan RK Serunai Laut untuk latihan bersama. Seni ialah keseimbangan, seperti makna yang terpatri di dinding sekretarian UKM Seni STKIP Padang. Dan Teater Ruang Bekas yang notabenenya merupakan kelompok teater kampus, terus berkesenian tanpa harus mengorbankan kuliah—tanpa harus membatas-batasinya.(del)