Berita /

Beragam Tradisi Masyarakat Indonesia Sambut Ramadhan

Inioke.com , Senin, 16 Juli 2012 09:19 wib

Balimau (foto: melayuonline.com)

Bulan Ramadhan menjelang. Banyak masyarakat muslim di Indonesia melakukan tradisi penyambutan bulan yang suci dan penuh ampunan itu, seperti meugang, munggahan, balimau, dan banyak lagi yang lainnya. Tradisi tersebut telah dilakukan sejak dulu kala dan menjadi suatu kearifan lokal saat menyambut bulan Ramadhan.

Meugang

Meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh untuk menyambut bulan puasa. Dalam tradisi ini, dilaksanakan pemotongan hewan satu hari atau dua hari sebelum bulan puasa tiba. Masyarakat Aceh menyembelih ratusan bahkan ribuan ekor kambing, kerbau, ayam, ataupun bebek. Meugang hari dirayakan dengan cara memasak dan menyantap daging bersama keluarga menjelang masuknya bulan suci Ramadhan. 

Dilansir dari acehpedia (16/7), tradisi ini awalnya dilakukan pada masa Kerajaan Aceh. Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya.

Balimau

Lain halnya di Ranah Minang, terdapat salah satu tradisi untuk menyambut bulan Suci Ramadhan yaitu 'Balimau'. Dalam Bahasa Indonesia kata balimau adalah "Berlimau". Limau adalah nama sebutan jeruk. Kata Limau lebih cenderung direferensikan ke jeruk nipis atau jeruk yang biasa digunakan untuk obat atau buah untuk dikonsumsi.

Balimau atau berlimau secara bahasa, berarti mandi menggunakan beberapa rempah (serai, pandan dan limau/jeruk nipis) sewaktu memasuki bulan suci Ramadhan. Dulu kala, balimau tidak menggunakan sabun seperti sekarang ini, hanya menggunakan kulit limau untuk membersihakan badan dan kulit kepala. Proses balimau ini biasa dilakukan di sungai atau pancuran karena di zaman dulu belum banyak sumur.

Makna balimau saat ini semakin luas, sebagai prosesi membersihkan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan. Saat ini balimau sudah tidak menggunakan limau lagi, karena shampoo dan sabun sudah menjadi pilihan untuk membersihkan badan dan rambut. Yang tidak berubah dari tradisi balimau saat ini adalah tempat pelaksanaannya masih di sungai atau di pancuran (air terjun) bahkan ke pantai.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, munggahan kini hanya diartikan sebagai makan-makan atau kumpul-kumpul bersama keluarga atau teman sebaya dalam menyambut bulan Ramadhan dan balimau hanya tradisi untuk mandi-mandi menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Meski tradisi itu mulai memudar, tapi dengan kegiatan mandi atau makan bersama tersebut diharapkan bisa saling maaf memaafkan, mempererat tali silaturahmi dan dapat menyucikan diri saat menyambut bulan Ramadhan.

Ngelop

Mandi di laut beramai-ramai untuk menyucikan diri tak hanya dilakukan di Sumatera Barat. Tetapi, di Lampung Selatan juga ada dan disebut tradisi Ngelop. Dilansir dari wisatamelayu (16/7), dalam rangkaian tradisi ngelop, warga mandi dan membasahi seluruh tubuh dan bermain di pantai seperti biasa.

Munggahan

Mungkin kita masih asing dengan istilah 'munggahan'. Munggahan merupakan suatu tradisi untuk menyambut bulan Ramadhan yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, disebut mungahan karena mereka menganggap orang yang berpuasa itu munggah atau meningkat perasaannya.

Munggahan dalam bahasa Sunda, kata dasarnya dari unggah, yang maknanya adalah naik dari bawah ke tempat yang lebih tinggi. Jadi, kaitannya dengan tradisi menyambut Ramadhan, munggahan itu berarti naik dari bulan Syaban ke bulan Ramadhan serta satu upaya menaikan keimanan dalam waktu satu bulan.

Munggahan itu sendiri adalah acara makan bersama yang diselenggarakan setiap kali menjelang bulan puasa oleh suatu keluarga dengan mengundang tetangga di sekitar dengan menghadirkan ustadz untuk memimpin doa dan memberikan ceramah seputar Ramadhan. Di dalam munggahan itu, terdapat beberapa ritual, seperti ziarah kubur, silaturahmi minta maaf, saling mengirimi makanan. Ritual yang syarat dengan makna, dan boleh dibilang merupakan suatu kearifan lokal di tatar Sunda.

Secara sya'ri dalam Islam memang tidak ada tradisi Munggahan bahkan Rasulullah saw tidak melakukan hal itu. Mungkin hikmah yang bisa kita ambil adalah saling memaafkan membersihkan diri menyambut bulan Ramadhan. 

Dugderan

Di Semarang, Jawa Tengah, ada pula tradisi dugderan. Dugderan berasal dari kara 'dug' dan 'der'. Kata Dug diambil dari suara dari bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda datangnya awal bulan Ramadhan. Sedangkan kata “Der” sendiri berasal dari suara dentuman meriam yang disulutkan bersamaan dengan tabuhan bedug. Dugderan berbentuk festival dan pasar malam yang biasanya dilakukan satu minggu sebelum puasa.

Dandangan

Menyambut bulan Ramadhan, ada tradisi dandangan di Kudus, Jawa Tengah. Asal nama itu mengambil bunyi beduk Menara Kudus yang ditabuh menandai datangnya awal bulan puasa. Dandangan merupakan pasar malam di sekitar Menara Kudus yang menyajikan berbagai dagangan peralatan rumah tangga, mainan anak-anak, pakaian, dan lain sebagainya. Konon kabarnya, tradisi dandangan ini sudah ada sejak zaman Sunan Kudus.

(op/berbagai sumber)